Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 26 Oktober 2009

Dinas Budpar TTU Promosik Tinju dan Gulat Tradisional Manatika

foto 1: Salah satu pasangan peserta pertandingan

foto 2; Kabid Pembinaan Pelestarian dan Pengembangan Budaya Disbudpar TTU, Nika Fernandez.



Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Kefamenanu-Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) tahun ini, dimeriahkan oleh Manatika dan Mafiluk, dua jenis olah raga tradisional yang dimiliki masyarakat Atoni Pah Meto (Dawan). Kedua olahraga tradisional ini sudah ada sejak dahulu kala dan tetap dipertahankan hingga kini.

KEFAMENANU ON- Di jaman dahulu hingga saat ini, masyarakat Kabupaten TTU, saat merayakan suatu pesta adat atau panen, membangun rumah adat suku, kenduri dan lain-lain, biasanya selalu diwarnai dengan hiburan olahraga tradisional. Yang dimaksud dengan olahraga tradisional adalah tinju dan gulat yang biasa disebut dengan Manatika dan Mafiluk.
Dalam perkembangannya, kedua jenis olah raga ini mendapat perhatian dari Pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kabupaten TTU. di setiap event seperti HUT Kota Kefamenanu, Manatika dan Mafiluk selalu ditampilkan untuk menghibur masyarakat sekaligus sebagai salah satu bentuk promosi pariwisata daerah. Selain sebagai media promosi wisata, Manatika dan Mafiluk juga bisa dibina menjadi olahraga masyarakat. Olah raga ini perlu digali, dilestarikan dan dikembangkan untuk menarik para wisatawan dari dalam dan luar negeri yang dapat mendatangkan devisa bagi negara atau masyarakat.
Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Pelestarian dan Pengembangan Budaya Disbudpar TTU, Nika Fernandez, kepada wartawan mengatakan, Manatika dan Mafiluk adalah suatu pertandingan tinju dan gulat yang menggunakan kaki sebagai alat tinju untuk menendang lawan dengan batas tendangan pada pangkal paha ke bawah.
Sedangkan Mafiluk adalah suatu jenis gulat tradisional antara orang perorang dengan cara saling memeluk dan membanting lawan hingga jatuh. Kedua jenis olah raga ini adalah olah raga keras yang menguji kekuatan fisik para peserta, sekaligus menguji mental peserta untuk berlaga di arena dengan mengandalkan fisik dan mental yang dimiliki.

Fernandez menyampaikan, program kegiatan tinju tradisional yakni (Biinmafo Manatika Foot Boxing) dan gulat tradisional (Sari Mafiluk Gulat atau SAMAGUL) bermaksud untuk melestarikan dan mengembangkan olah raga tradisional untuk meningkatkan kesehatan lahiriah dan jasmaniah bagi masyarakat TTU.
Dikatakannya, Manatika-Mafiluk adalah olah raga tradisional Pah Meto yang harus dikembangkan sehingga dapat menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjuk ke TTU. Dengan demikian, dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendatangkan devisa bagi daerah. Olahraga ini juga bisa dijadika suatu event tetap untuk diselenggarakan setiap tahun sebagai sarana hiburan masyarakat yang bernuansa kepariwisataan untuk mendukung pembangunan kebudayaan dan kepariwisataan daerah. Dengan terus melestarikan olahraga tradisional, maka akan membangkitkan rasa kecintaan masyarakat pada budaya sendiri, mengembangkan kebudayaan sendiri dan menjadikan Kota Kefamenanu di tahun 2010 sebagai Kota Wisata. Dengan demikian bisa marangsang semua komponen yang ada untuk bisa lebih berkembang maju.
Tinju dan gulat tradisional yang baru pertama kali diselenggarakan di kabupaten TTU, bagi Dinas Budpar serta Dinas Pemuda dan Olahraga, kata Nika Fernandez, merupakan suatu even yang sangat menarik, apalagi dengan pembina utamanya adalah Ketua Pertina Cabang Kefamenanu yakni Dandim 1618 TTU, Drs. H. M Sinaga. Pertunjukan tinju dan gulat tradisional ini disponsori oleh Direktur Hotel Livero Kefamenanu, Edward Tanur dan Bank NTT Cabang Kefamenanu.
Pertandingan dua jenis olah raga tradisional yang berlangsung dua hari sejak Minggu (11/10/09)lalu diikuti oleh lima pasang peserta. Kelima pasang peserta tersebut berasal dari lima desa di perbatasan yakni Desa Hamunei, Tes, Napan, Fainake dan Sainoni. Kelia pasang petinju dan pegulat dalam pertandingan mengenakan pakaian tradisional yakni selimut daerah bagian bawah dan ikat kepala berupa selendang. Mereka menggunakan sarung tinju di tangan dan kaki yang disiapkan oleh panitia dan didampingi seorang manejer. Waktu bertanding berlangsung selama tiga ronde dan lamanya waktu setiap ronde dua menit. Pertandingan ini menggunakan sistem gugur. Sedangkan untuk teknik pertandingan, satu orang wasit diambil dari anggota masyarakat yang mengerti tentang Manatika dan Mafiluk. Wasit Manatika berasal dari Desa Haumeni dan wasit Mafiluk berasal dari Desa Oesena. Wasit sendiri berasal dari masyarakat dan Pertina.
“Dalam pengamatan Disbudpar, olah raga manukita memang berada hampir di setiap kecamatan di Kabupaten TTU. Namun, olahraga ini tumbuh dan berkembang hanya di 5 desa di daerah perbatasan, “ujar Nika Fernandez. – judhe

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar