Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 17 Januari 2011

Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini

Berbagai studi menunjukkan bahwa periode 5 (lima) tahun pertama kehidupan anak merupakan 'Masa emas' (golden period) atau 'Jendela Kesempatan' (window opportunity) dalam meletakkan dasar-dasar tumbuh kembang anak. Kualitas tumbuh kembang anak pada masa ini akan menentukan kualitas kesehatan fisik, mental, emosional, sosial, kemampuan belajar dan perilaku sepanjang hidupnya.

Oleh karena itu Golden period harus dimanfaatkan (digarap) sebaik-baiknya untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Ada 2 hal yang perlu dilakukan orang tua, pendidik, dan pengasuh yaitu:


Kedua upaya di atas dikenal sebagai Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD). Upaya PAUD dapat dilakukan sendiri di rumah dengan menggunakan sumber daya yang tersedia di rumah dan lingkungan rumah (disebut jalur informal). Akan lebih baik lagi bila mengikutsertakan anak usia dini pada kegiatan yang diselenggarakan Lembaga yang menyelenggarakan 'PAUD satu atap' yang tersedia di lingkungan tempat tinggal seperti Posyandu gabung dengan Bina Keluarga Balita (BKB) dan Pos PAUD baik melalui jalur pendidikan formal maupun non formal (lihat Undang-Undang terkait tentang Sistem Pendidikan Nasional di bagian bawah).

Latar belakang Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) Holistik-Integratif di Indonesia

Cikal bakal penyelenggaraan upaya PAUD di Indonesia sudah dilaksanakan masyarakat sejak beberapa puluh tahun yang lalu, baik yang telah lama dikenal seperti TK dan Posyandu maupun yang belum terlalu lama terbentuk seperti Pos PAUD. Masing-masing dikelola oleh Departemen/Kementerian/Lembaga, masyarakat dan dunia usaha, antara lain melalui jalur:

  • Taman Kanak-kanak (TK)
  • Raudatul Athfal (RA)
  • Bustanul Athfal (BA)
  • Sekolah Minggu
  • Kelompok Bermain (Play group)
  • Taman Penitipan Anak (TPA)
  • Satuan PAUD Sejenis (SPS)
  • Pos PAUD
  • Bina Keluarga Balita (BKB)
  • Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)
  • dll

Namun penyelenggaraan PAUD tersebut masih menghadapi berbagai permasalahan yang menyebabkan terbatasnya jangkauan, jenis pelayanan dan kesenjangan kebutuhan esensial anak, yang disebabkan antara lain:

  • Pelayanan belum terintegrasi (masing-masing Lembaga nampak berjalan sendiri-sendiri dan kurang koordinasi dengan Lembaga lain yang sejenis).
  • Kualitas pengelolaan kurang profesional.
  • Keterbatasan jumlah Lembaga penyelenggara.
  • Distribusi Lembaga penyelenggara kurang merata.
  • Distribusi dan kualitas tenaga kurang merata.
  • Fasilitas pelayanan kurang memadai.
  • Pelayanan belum memenuhi seluruh aspek kebutuhan esensial anak.
  • Pemahaman akan pentingnya pengembangan anak usia dini yang holistik-integratif dari para pemangku kepentingan (baik dari para pengambil kebijakan, penyelenggara dan masyarakat) masih terbatas.

Upaya kearah pengembangan anak usia dini telah dikembangkan Departemen Kesehatan sejak tahun 1988 melalui program Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) Anak. Pada sekitar tahun 1999 dibentuk Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada Departemen Pendidikan Nasional, sejak saat itu upaya PAUD semakin berkembang dan mendapat respon positif dari masyarakat. Seiring dengan semakin berkembangnya pengetahuan dan penelitian mengenai PAUD, maka kebutuhan akan PAUD meningkat pesat, selaras dengan itu konsep PAUD mulai berubah. Para ahli menganggap perlu dan mendesak untuk melakukan Pengembangan Anak Usia Dini secara holistik (utuh dan menyeluruh) dan terintegrasi lintas sektor yang disebut sebagai "PAUD Holistik-Integratif".

Apakah PAUD Holistik-Integratif itu?

Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) Holistik-Integratif adalah pengembangan anak usia dini yang dilakukan berdasarkan pemahaman untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling berkait secara simultan dan sistematis, yang meliputi berbagai aspek pengembangan fisik dan non fisik, agar anak dapat tumbuh kembang sebagai anak yang sehat, kuat, cerdas, ceria, dan berbudi luhur. Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini secara fisik, mental, emosional, dan sosial dipengaruhi oleh pemeliharaan kesehatan, pemenuhan gizi, pendidikan, stimulasi mental, dan psikososial (Bappenas).

PAUD dalam Sistem Pendidikan Nasional
Menurut Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, BAB I KETENTUAN UMUM, Pasal 1 ayat 14:

"Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam pendidikan yang lebih lanjut".

Undang-Undang yang sama, BAB VI JALUR, JENJANG, DAN JENIS PENDIDIKAN, Bagian Ketujuh, Pendidikan Anak Usia Dini, Pasal 28 ayat 1-6:

(1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.

(2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

(3) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

(4) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

(5) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

(6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.


Dasar perlunya PAUD Holistik-Integratif

Hal-hal yang mendasari perlunya PAUD Holistik-Integratif adalah:

  • Memenuhi kebutuhan esensial anak secara utuh dan menyeluruh.
  • Memenuhi pelayanan kepada anak yang sistematik dan terencana.
  • Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh sistem interaksi yang kompleks dengan berbagai tingkatan lingkungan sekitarnya yang disebut 'Ekologi tumbuh kembang anak usia dini'. Lingkungan yang dimaksud meliputi sistem mikro, meso, exo dan makro (dibahas pada keterangan di bagian bawah).
  • Adanya masa emas (golden period) pada tumbuh kembang anak, yaitu sejak janin sampai usia 5 atau 6 tahun.
  • Manfaat dan pendekatan PAUD Holistik-Integratif sudah teruji secara ilmiah (dibahas pada keterangan di bagian bawah).

Bagan Model Ekologi Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

Sumber: Bappenas-Unicef, Jakarta, 2009, Pedoman Umum Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif

Keterangan:

Ekologi tumbuh kembang Anak Usia Dini

Sistem Mikro adalah lingkungan yang paling dekat dengan anak dalam kegiatan dan interaksinya sehari-hari, yaitu interaksi dengan orang tua, kakak, adik, dan teman sebaya. Interaksi dengan lingkungan terdekat akan berakibat langsung terhadap anak, pada saat yang sama juga terdapat hubungan timbal balik (2 arah) yaitu anak mempengaruhi lingkungan dan lingkungan mempengaruhi anak. Lingkungan ini mempunyai dampak terbesar dan mendalam pada perkembangan anak karena berlangsung dalam jangka waktu yang panjang dan intensif pada anak usia dini.

Sistem Meso adalah interaksi antar komponen dalam sistem mikro, misalnya hubungan antara keluarga dengan sekolah. Bila terjadi hubungan yang kuat dan saling mengisi antar komponen ini maka semakin besar pengaruh baiknya bagi perkembangan anak.

Sistem Exo merupakan sistem sosial yang lebih besar dimana anak tidak langsung berperan di dalamnya. Contoh: lingkungan kerja orang tua. Kebijakan dan keputusan pada tataran ini secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap perkembangan anak.

Sistem Makro merupakan lingkungan terluar anak seperti nilai-nilai budaya, hukum, adat, peraturan perundang-undangan, dll yang juga berpengaruh tidak langsung terhadap perkembangan anak.

Manfaat pendekatan PAUD Holistik-Integratif

Manfaat secara sosial

Meliputi perkembangan kemampuan berbahasa, intelegensia, kepribadian, perilaku sosial, ketahanan mental dan psikososial serta prestasi akademik. Hasil studi mengungkapkan bahwa investasi yang diberikan pada kelompok usia dini akan dipetik hasilnya pada tahap-tahap selanjutnya dari siklus hidupnya.

Contohnya: perkembangan kemampuan berbahasa anak sangat dipengaruhi oleh intensitas interaksi orang tua untuk berbicara dengan anak. Jumlah kata-kata yang dikuasai anak secara dini sangat berpengaruh pada kemampuan berbahasa mereka yang selanjutnya akan mempengaruhi kinerja kognitif anak. Tingginya kemampuan berbahasa, intelegensia, kepribadian, perilaku sosial, ketahanan mental dan psikososial serta prestasi akademik akan dipetik hasilnya ketika anak sudah dapat mengekspresikan dan mengimplementasikan karya-karyanya yaitu pada umumnya ketika anak sudah mulai beranjak dewasa.

Manfaat secara ekonomi

Secara ekonomi, maka PAUD Holistik-Integratif bermanfaat untuk:

  • Menghasilkan economic return yang lebih dan menurunkan social costs di masa yang akan datang.
  • Meningkatkan efisiensi investasi pada sektor lain, misal: dengan melakukan intervensi program gizi, kesehatan dan pendidikan sejak dini maka akan menurunkan biaya yang diakibatkan masalah-masalah kesehatan dan problem sosial dimasa depan.
  • Mencapai pemerataan sosial-ekonomi masyarakat termasuk mengatasi kesenjangan antar gender.
  • Memutus siklus kemiskinan antar generasi.

Kesimpulan

Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif sangat diperlukan mengingat anak adalah individu yang utuh, maka pengembangannnya perlu dilakukan secara utuh dan menyeluruh. Diperlukan program yang terintegrasi meliputi pemeliharaan kesehatan, pemenuhan gizi, pendidikan, stimulasi mental, dan psikososial untuk memenuhi semua kebutuhan dasar anak (fisik, mental, emosional, dan sosial) agar dapat bertumbuh dan berkembang optimal sesuai potensi yang dimilikinya.

Referensi

  • http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_anak_usia_dini, diakses 26 Februari 2010.
  • http://www.diknas.go.id/headline.php?id=2, diakses 26 Februari 2010.
  • Materi Bappenas pada 'Pertemuan Regional I Evaluasi Kegiatan Integrasi Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), Gizi, Kesehatan dan PAUD kerjasama Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Pendidikan Nasional, Bandung 23-25 Februari 2010, Pedoman Umum Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif.

§ enas-Unicef, Jakarta, 2009, Pedoman Umum Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integrat

IMPLEMENTASI KONSEP MONTESSORI PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Kategori: Insan Peduli PTKPNF (48479 kali dibaca)

A. PENDAHULUAN

Anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil. Oleh sebab itu, anak harus diperlakukan sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Hanya saja, dalam praktik pendidikan sehari-hari, tidak selalu demikian yang terjadi. Banyak contoh yang menunjukkan betapa para orang tua dan masyarakat pada umummnya memperlakukan anak tidak sesuai dengan tingkat perkembangananya. Di dalam keluarga orang tua sering memaksakan keinginannya sesuai kehendaknya, di sekolah guru sering memberikan tekanan (preasure) tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak, di berbagai media cetak/elektronika tekanan ini lebih tidak terbatas lagi, bahkan cenderung ekstrim.

Mencermati perkembangan anak dan perlunya pembelajaran pada anak usia dini, tampaklah bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan pada pendidikan anak usia dini, yakni: 1) materi pendidikan, dan 2) metode pendidikan yang dipakai. Secara singkat dapat dikatakan bahwa materi maupun metodologi pendidikan yang dipakai dalam rangka pendidikan anak usia dini harus benar-benar memperhatikan tingkat perkembangan mereka. Memperhatikan tingkat perkembangan berarti pula mempertimbangkan tugas perkembangan mereka, karena setiap periode perkembangan juga mengemban tugas perkembangan tertentu.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 1 menegaskan bahwa, pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Menyikapi perkembangan anak usia dini, perlu adanya suatu program pendidikan yang didisain sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Kita perlu kembalikan ruang kelas menjadi arena bermain, bernyanyi, bergerak bebas, kita jadikan ruang kelas sebagai ajang kreaktif bagi anak dan menjadikan mereka kerasan dan secara psikologis nyaman. Untuk lebih jelasnya dalam makalah ini dikemukanbagaimana Mantessori mendisain program pembelajaran untuk anak usia dini.

B. PEMBAHASAN

Tokoh pendidikan anak usia dini, Montessori, mengatakan bahwa ketika mendidik anak-anak, kita hendaknya ingat bahwa mereka adalah individu-individu yang unik dan akan berkembang sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Tugas kita sebagai orang dewasa dan pendidik adalah memberikan sarana dorongan belajar dan memfasilitasinya ketika mereka telah siap untuk mempelajari sesuatu. Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan masa-masa yang sangat baik untuk suatu formasio atau pembentukan. Masa ini juga masa yang paling penting dalam masa perkembangan anak, baik secara fisik, mental maupun spritual. Di dalam keluarga dan pendidikan demokratis orang tua dan pendidik berusaha memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan yang dibutuhkan oleh anak. Oleh karena itu, baik dan tepat bagi setiap orang tua dan pendidik yang terlibat pada proses pembentukan ini, mengetahui, memahami perkembangan anak usia dini. Tapi sekolah kita belum memiliki based line data yang holistik yang dapat memberikan berbagai informasi tentang perkembanganbehavior dan kesulitan belajar anak terhadap berbagai subkompetensi materi sulit. Informasi ini sangat diperlukan untuk melakukan treatmen secara berjenjang tentang perkembangan anak sejak usia dini sampai mereka dewasa (SLTA).

1. Perkembangan Anak Usia Dini

Banyak pendapat dan gagasan tentang perkembangan anak usia dini, Montessori yakin bahwa pendidikan dimulai sejak bayi lahir. Bayipun harus dikenalkan pada orang-orang di sekitarnya, suara-suara, benda-benda, diajak bercanda dan bercakap-cakap agar mereka berkembang menjadi anak yang normal dan sehat. Metode pembelajaran yang sesuai dengan tahun-tahun kelahiran sampai usia enam tahun biasanya menentukan kepribadian anak setelah dewasa. Tentu juga dipengaruhi seberapa baik dan sehat orang tua berperilaku dan bersikap terhadap anak-anak usia dini. Karena perkembangan mental usia-usia awal berlangsung cepat, inilah periode yang tidak boleh disepelekan. Pada tahun-tahun awal ini anak-anak memiliki periode-periodesensitive atau kepekaan untuk mempelajari atau berlatih sesuatu. Sebagian besar anak-anak berkembang pada asa yang berbeda dan membutuhkan lingkungan yang dapat membuka jalan pikiran mereka.

Menurut Montessori, paling tidak ada beberapa tahap perkembangan sebagai berikut:

1. Sejak lahir sampai usia 3 tahun, anak memiliki kepekaan sensoris dan daya pikir yang sudah mulai dapat “menyerap” pengalaman-pengalaman melalui sensorinya.

2. Usia setengah tahun sampai kira-kira tiga tahun, mulai memiliki kepekaan bahasa dan sangat tepat untuk mengembangkan bahasanya (berbicara, bercakap-cakap).

3. Masa usia 2 – 4 tahun, gerakan-gerakan otot mulai dapat dikoordinasikan dengan baik, untuk berjalan maupun untuk banyak bergerak yang semi rutin dan yang rutin, berminat pada benda-benda kecil, dan mulai menyadari adanya urutan waktu (pagi, siang, sore, malam).

4. Rentang usia tiga sampai enam tahun, terjadilah kepekaan untuk peneguhan sensoris, semakin memiliki kepekaan indrawi, khususnya pada usia sekitar 4 tahun memiliki kepekaan menulis dan pada usia 4 – 6 tahun memiliki kepekaan yang bagus untuk membaca.

Pendapat Mantessori ini mendapat dukungan dari tokoh pendidkan Taman Siswa, Ki hadjar Dewantara, sangat meyakini bahwa suasana pendidikan yang baik dan tepat adalah dalam suasana kekeluargaan dan dengan prinsip asih(mengasihi), asah (memahirkan), asuh (membimbing). Anak bertumbuh kembang dengan baik kalau mendapatkan perlakuan kasih sayang, pengasuhan yang penuh pengertian dan dalam situasi yang damai dan harmoni. Ki Hadjar Dewantara menganjurkan agar dalam pendidikan, anak memperoleh pendidikan untuk mencerdaskan (mengembangkan) pikiran, pendidikan untuk mencerdaskan hati (kepekaan hati nurani), dan pendidikan yang meningkatkan keterampilan.

Tokoh pendidikan ini sangat menekankan bahwa untuk usia dini bahkan juga untuk mereka yang dewasa, kegiatan pembelajaran dan pendidikan itu bagaikan kegiatan-kegiatan yang disengaja namun sekaligus alamiah seperti bermain di “taman”. Bagaikan keluarga yang sedang mengasuh dan membimbing anak-anak secara alamiah sesuai dengan kodrat anak di sebuah taman. Anak-anak yang mengalami suasana kekeluargaan yang hangat, akrab, damai, baik di rumah maupun di sekolah, serta mendapatkan bimbingan dengan penuh kasih sayang, pelatihan kebiasaan secara alami, akan berkembang menjadi anak yang bahagia dan sehat.

1. Pembelajaran Pada Taman kanak-Kanak

Anak taman kanak-kanak termasuk dalam kelompok umum prasekolah.Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain, melakukan latihan berkelompok, melakukan penjelajahan, bertanya, menirukan, dan menciptakan sesuatu. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain. Seluruh sistem geraknya sudah lentur, sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajar tanpa rasa malu. Di taman kanak-kanak, anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa, terutama dalam kosa kata. Hal yang menarik, anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain.

Sehubungan dengan ciri-ciri di atas maka tugas perkembangan yang diemban anak-anak adalah:

1. Belajar keterampilan fisik yang diperlukan untuk bermain.

2. Membangun sikap yang sehat terhadap diri sendiri

3. Belajar menyesuaikan diri dengan teman sebaya

4. Mengembangkan peran sosial sebagai lelaki atau perempuan

5. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan dalam hidup sehari-hari

6. Mengembangkan hati nurani, penghayatan moral dan sopan santun

7. Mengembangkan keterampilan dasar untuk membaca, menulis, matematika dan berhitung

8. Mengembangkan diri untuk mencapai kemerdekaan diri.

Dengan adanya tugas perkembangan yang diemban anak-anak, diperlukan adanya pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi anak-anak yang selalu “dibungkus” dengan permainan, suasana riang, enteng, bernyanyi dan menari. Bukan pendekatan pembelajaran yang penuh dengan tugas-tugas berat, apalagi dengan tingkat pengetahuan, keterampilan dan pembiasaan yang tidak sederhana lagi seperti paksaan untuk membaca,menulis, berhitung dengan segala pekerjaan rumahnya yang melebihi kemampuan anak-anak.

Pada usia lima tahun pada umumnya anak-anak baik secara fisik maupun kejiwaan sudah siap untuk belajar hal-hal yang semakin tidak sederhana dan berada pada waktu yang cukup lama di sekolah. Setelah apada usia 2-3 tahun mengalami perkembangan yang cepat. Pada usia enam tahun, pada umumnya anak-anak telah mengalami perkembangan dan kecakapan bermacam-macam keterampilan fisik. Mereka sudah dapat melakukan gerakan-gerakan seperti meloncat, melompat, menangkap, melempar, dan menghindar. Pada umumnya mereka juga sudah dapat naik sepeda mini atau sepeda roda tiga. Kadang-kadang untuk anak-anak tertentu keterampilan-keterampilan ini telah dikuasainya pada usia 4-5 tahun.

Montessori memberikan gambaran peran guru dan pengaruh lingkungan terhadap perkembangan kecerdasan, sebagai berikut:

a. 80 % aktifitas bebas dan 20 % aktifitas yanag diarahkan guru

b. melakukan berbagai tugas yang mendorong anak untuk memikirkan tentang hubungan dengan orang lain

c. menawarkan kesempatran untuk menjalin hubungan social melalui interaksi yang bebas

d. dalil-dalil ditemukan sendiri, tidak disajikan oleh guru

e. atauran pengucapan didapat melalui pengenalan pola, bukan dengan hafalan

setiap aspek kurikulum melibatkan pemikiran

Montessori, mengatakan bahwa pada usia 3-5 tahun, anak-anak dapat diajari menulis, membaca, dikte dengan belajar mengetik. Sambil belajar mengetik anak-anak belajar mengeja, menulis dan membaca. Ada suatu penelitian di Amerika yang menyimpulkan bahwa kenyataannya anak-anak dapat belajar membaca sebelum usia 6 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada sekitar 2 % anak yang sudah belajar dan mampu membaca pada usia 3 tahun, 6 % pada usia empat tahun, dan sekitar 20 % pada usia 5 tahun. Bahkan terbukti bahwa pengalaman belajar di taman kanak-kanak dengan kemampuan membaca memadai akan sangat menunjang kemampuan belajar pada tahun-tahun berikutnya.

Pendapat Montessori ini didukung oleh Moore, seorang sosiolog dan pendidik, meyakini bahwa kehidupan tahun-tahun awal merupakan tahun-tahun yang paling kreaktif dan produktif bagi anak-anak. Oleh karena itu, sejauh memungkinkan, sesuai dengan kemampuan, tingkat perkembangan dan kepekaan belajar mereka, kita dapat juga mengajarkan menulis, membaca dan berhitung pada usia dini. Yang penting adalah strategi pengalaman belajar dan ketepatan mengemas pembelajaran yang menarik, mempesona, penuh dengan permainan dan keceriaan, enteng tanpa membebani dan merampas dunia kanak-kanak mereka.

Salah satu hal yang dibutuhkan untuk dapat meningkatkan perkembangan kecerdasan anak adalah suasana keluarga dan kelas yang akrab, hangat serta bersifat demokratis, sekaligus menawarkan kesempatan untuk menjalin hubungan sosial melalui interaksi yang bebas. Hal ini ditandai antara lain dengan adanya relasi dan komunikasi yang hangat dan akrab. .

Pada masa usia 2 – 6 tahun, anak sangat senang kalau diberikan kesempatan untuk menentukan keinginannya sendiri, karena mereka sedang membutuhkan kemerdekaan dan perhatian. Pada masa ini juga mencul rasa ingin tahu yang besar dan menuntut pemenuhannya. Mereka terdorong untuk belajar hal-hal yang baru dan sangat suka bertanya dengan tujuan untuk mengetahui sesuatu. Guru dan orang tua hendaknya memberikan jawaban yang wajar. Sampai pada usia ini, anak-anak masih suka meniru segala sesuatu yang dilakukan orang tuanya.

Perlu diingat juga bahwa minat anak pada sesuatu itu tidak berlangsung lama, karena itu guru dan orang tua harus pandai menciptakan kegiatan yang bervariasi dan tidak menerapkan disiplin kaku dengan rutinitas yang membosankan. Anak pada masa ini juga akan berkembang kecerdasannya dengan cepat kalau diberi penghargaan dan pujian yang disertai kasih sayang, dengan tetap memberikan pengertian kalau mereka melakukan kesalahan atau kegagalan. Dengan kasih sayang yang diterima, anak-anak akan berkembang emosi dan intelektualnya, yang penting adalah pemberian pujian dan penghargaan secara wajar.

Untuk memfasilatasi tingkat perkembangan fisik anak, pada taman kanak-kanak perlu dibuat adanya arena bermain yang dilengkapi dengan alat-alat peraga dan alat-alat keterampilan lainnya, karena pada usia 2- 6 tahun tingkat perkembangan fisik anak berkembang sangat cepat, dan pada umur tersebut anak-anak perlu dikenalkan dengan fasilitas dan alat-alat untuk bermain, guna lebih memacu perkembangan fisik sekaligus perkembangan psikis anak terutama untuk kecerdasan.

Banyak penelitian menyatakan bahwa orang-orang yang cerdas dan berhasil pada umumnya berasal dari keluarga yang demokratis, suka melakukan uji coba, suka menyelidiki sesuatu, suka berpergian (menjelajah alam dan tempat), dan aktif, tak pernh diam dan berpangku tangan. Ingat keterampilan tangan adalah jendela menuju pengetahuan. Dalam proses pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan uji coba (trial and error), mangadakan penyelidikan bersama-sama, menyaksikan dan menyentuh sesuatu objek, mengalami dan melakukan sesuatu , anak-anak akan jauh lebih mudah mengerti dan mencapai hasil belajar dengan mampu memanfaatkan atau menerapkan apa yang telah dipelajari.

C. KESIMPULAN

Dalam mengimplementasikan konsep Montessori terhadap program pendidikan bagi anak usia dini perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Kukrikulum pada pendidikan anak usia dini didesain berdasarkan tingkatperkembangan anak.

2. Materi maupun metodologi pendidikan yang dipakai dalam rangka pendidikan anak usia dini harus benar-benar memperhatikan tingkat perkembangan mereka. Memperhatikan tingkat perkembangan berarti pula mempertimbangkan tugas perkembangan mereka, karena setiap periode perkembangan juga mengemban tugas perkembangan tertentu.

3. Kompetensi akademis merupakan alat untuk mencapai tujuan,dan manipulasi dilihat sebagai materi yang berguna untuk poengembangan diri anak, Montessori menganjurkan perlu adanya area yang berbeda mewakili lingkungan yang disediakan, yaitu:

a. Practical life memberikan pengembangan dari tugas organisasional dan urutan kognisi melalui perawatan diri sendiri, perawatan lingkungan, melatih rasa syukur dan saling menghormati, dan koordinasi dari pergerakan fisik,

b. The sensorial area membuat anak mampu untuk mengurut, mengklasifikasi dan menerangkan impresi sensori dalam hubungannya dengan panjang, lebar, temperatur, masa, warna, titik, dan lain-lain.

c. Mathematics memanfaatkan pemanipulasian materi agar anak mampu untuk menginternalisasi konsep angka, symbol, urutan operasi, dan memorisasi dari fakta dasar

d. Language art yang di dalamnya termasuk pengembangan bahasa lisan, tulisan, membaca, kajian tentang grammar, dramatisasi, dan kesusesteraan anak-anak. Keahlian dasar dalam menulis dan membaca dikembangkan melalui penggunaan huruf dari kertas, kata-kata dari kertas pasir, dan berbagai prestasi yang memungkinkan anak-anak untuk menghubungkan antara bunyi dan simbul huruf, dan mengekpresikan pemikiran mereka melalui menulis.

e. Cultural activies membawa anak-anak untuk mengetahui dasar-dasar geografis, sejarah dan ilmu sosail. Musik, dan seni lainnya merupakan bagian dari kurikulum terintegrasi.

4. Lingkungan pendidikan anak usia dini menggabungkan fungsi psiko-sosial, fisik dan akademis dari seorang anak. Tugas pentingnya adalah untuk menyediakan dasar yang awal dan umum, dimana di dalamnya termasuk tingkah laku yang positif terhadap sekolah, inner security, kebiasaan untuk berinisiatif, kemampuan untuk mengambil keputusan, disiplin diri dan rasa tanggung jawab anggota kelas lainnya, sekolah dan komunitas. Dasar ini akan membuat anak-anak mampu untuk mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang lebih spesifik dalam kehidupan sekolah mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar